Selasa, 22 Mei 2012

PENGUMUMAN PENDAFTARAN SANTRI/WATI BARU PP. DARUSSALAM MARTAPURA Tahun Ajaran 2012-2013

PENGUMUMAN PENDAFTARAN SANTRI/WATI BARU
PP. DARUSSALAM MARTAPURA Tahun Ajaran 2012-2013

Diberitahukan kepada semua Calon Santri Santri/ wati PP.Darussalam Martapura dan masyarakat pada umumnya bahwa :

Pondok Pesantren Darussalam Martapura menerima calon Santri/wati baru untuk semua tingkatan PP. Darussalam Martapura ; Diniyah Awwaliyah, Wustho, Ulya (putra dan putri) Tahun Ajaran 2012-2013 dimulai pada Tanggal 10 Juni s/d 30 Juni 2012 bertempat di PP. Darussalam Martapura Jl. KH. Kasyful Anwar Pasayangan Martapura, pada tiap hari kecuali hari Jum'at dan Hari Besar Islam dimulai jam 09.00 s/d 13.00 waktu setempat.

Persyaratan Pendaftaran Santri/Wati Baru Tahun Ajaran 2012-2013.
1. Membawa Surat Kelakuan Baik Dari Desa/Kelurahan Setempat.
2. Membawa Fotocopy Ijazah Dan Raport Nilai Terakhir dari Sekolah/Madrasah Sebelumnya(*)
3. Membawa Pas Foto Ukuran 2x3 Sebanyak 4 Lembar
4. Membayar Biaya Administrasi Pendaftaran Santri/Wati Baru.

Persyaratan Pendaftaran Santri Lama.
1. Membawa/Memperlihatkan Kartu Ujian Akhirussanah
2. Membawa Pas Foto ukuran 2x3 Sebanyak 4 Lembar
3. Membayar Biaya Administrasi Pendaftaran Santri/Wati Lama.

Biaya Administrasi Pendaftaran Santri/Wati Baru Dan Lama.

Biaya Pendaftaran + SPP 2 Bulan = Jumlah
Tingkat Ulya Putra/i Baru Rp.350.000 + Rp.80.000 = Rp.430.000,-
Tingkat Ulya Putra/i Lama Rp.200.000 + Rp.80.000 = Rp.280.000,-
Tingkat Wustho Putra/i Baru Rp.250.000 + Rp.70.000 = Rp.320.000,-
Tingkat Wustho Putra/i Lama Rp.150.000 + Rp.70.000 = Rp.220.000,-
Tingkat Awwaliyah Putra/i Baru Rp.200.000 + Rp.60.000 = Rp.260.000,-

* Biaya Formulir Sebesar Rp.25.000

Catatan :
(*) Apabila belum lulus atau ijazah belum dikeluarkan oleh sekolah/madrasah asal calon santri/wati baru bisa membawa Surat Keterangan Lulus Sementara dari sekolah/madrasah yang bersangkutan.
- Diharapkan agar sesegeranya mendaftar karena tempat/lokal terbatas.
- Awal Belajar santri/wati Baru tanggal 1 Juli 2012, sedangkan untuk santri/wati lama tanggal 2 Juli 2012.
BROSUR PP. DARUSSALAM MARTAPURA BISA DI DOWNLOAD DI SINI
FORMULIR PENDAFTARAN BISA DI DOWNLOAD DI SINI

Senin, 09 April 2012

Pengumuman Ujian Akhirussanah 2012


PENGUMUMAN
No.04/SKUM/PU/IV – 2012

UJIAN AKHIRUS-SANAH DAN LIBUR AKHIR TAHUN AJARAN 2011-2012
Kepada  semua Santri/wati seluruh tingkatan diberitahukan bahwa :
1.    Pendaftaran Ujian Akhirussanah dimulai tanggal 01 Mei s/d 15 Mei 2012
-         Ujian Tingkatan kepada Tata Usaha (T.U.) masing-masing tingkatan
-         Ujian Kelas-kelas kepada Penerima SPP masing-masing
2.   Hari terakhir belajar pada hari Selasa, 15 Mei 2012
3.   Libur Menjelang Ujian selama 3 hari mulai hari Rabu, 16 Mei s/d Jum’at, 18 Mei 2012
4.  Ujian Tingkatan (kelas III Ulya dan Wustha, dan kelas IV Awwaliah) di mulai Hari Sabtu, Tgl 19 Mei s/d Kamis Tgl 24 Mei 2012.  Selama ujian Tingkatan berlangsung, santri/ wati yang akan mengikuti Ujian kelas-kelas diliburkan
5.   Ujian kelas-kelas (kelas I & II Ulya, kelas I & II Wustha, dan kelas I s/d III Awwaliah) di mulai pada hari Sabtu, Tgl 26 Mei s/d Kamis Tgl 31 Mei 2012
6.   Jumlah ALPA dalam absensi semester tidak boleh lebih dari 20 hari, apabila melebihi dari jumlah yang ditentukan maka tidak akan diikutsertakan dalam ujian
7.   Raport nilai santri/wati semua tingkatan maupun kelas harus dikumpul kepada guru/ wali kelas/ pengawas ujian yang bersangkutan, selambatnya pada akhir ujian tingkatan dan akhir ujian kelas.
8.   Biaya pendaftaran ujian Akhirussanah :
Kelas
Ujian Tingkatan
Ujian Kelas-kelas
Ulya 
Rp. 100.000
Rp. 40.000
Wustho
Rp.  85.000
Rp. 35.000
Awaliyah
Rp.  75.000
Rp. 30.000
9.   Pengumuman kelulusan bagi Santri/wati yang mengikuti ujian Tingkatan pada hari Kamis, Tgl 14 Juni 2012
10. Pembagian raport untuk kenaikan kelas pada hari Kamis, tgl 28 Juni 2012
Demikian hal ini disampaikan untuk diketahui

Martapura, April 2012
Ttd,
Sekretariat PP.Darussalam Martapura

Sabtu, 07 April 2012

Sekilas Profil PP. Darussalam Martapura


PROFIL PONDOK PESANTREN DARUSSALAM

A.      Latar Belakang
Kota Martapura ibukota kabupaten Banjar Kalimantan Selatan adalah kota tua bekas ibukota Kerajaan Islam Banjar yang pernah berdiri pada abad ke-15 sampai berakhir pada abad ke 19. Bagi masyarakat Banjar kota ini memiliki sejarah relijiusitas yang mendalam dimana dilahirkan di kota ini ulama-ulama besar yang menjadikan kota ini sebagai pusat penyebaran agama Islam ke seluruh penjuru tanah Banjar bahkan ke peosok Pulau Kalimantan. Ulama besar yang dikenal seperti Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary dengan didukung oleh Sultan Banjar mendirikan suatu lembaga pendidikan pesantren di desa Dalam Pagar Martapura yang berhasil melahirkan banyak ulama dan da’i yang kemudian atas perintah Beliau menyebar ke seluruh penjuru Kalimantan untuk menyebarluaskan syiar agama Islam.
Seiring berjalannya waktu pasca wafatnya Syekh Arsyad (th. 1777) dan dibubarkannya kesultanan Banjar oleh Belanda (th. 1876), kota Martapura masih tetap bertahan sebagai pusat studi ilmu-ilmu agama di Kalimantan. Pesantren Dalam Pagar dan majelis-majelis ta’lim di masjid, langgar/surau dan rumah-rumah para ulama Martapura menjadi sumber mata air bagi mereka yang haus akan ilmu, amalan dan barokah. Zuriat Syekh Arsyad dan murid-muridnya dari Martapura telah menyebar ke berbagai pelosok untuk meneruskan perjuangannya sebagai “waratsatul anbiya” dengan sepenuh hati berdakwah bil hal maupun bi lisan dan memprakarsai berdirinya basis-basis baru penyebaran agama Islam di beberapa daerah seperti di Alabio, Amuntai, Pleihari, Rantau, Samarinda, Sambas, Tembilahan Riau, dan lain-lain.
Momen yang amat penting terjadi pada permulaan abad ke-19 dimana ide-ide pembaharuan dari Jamaluddin Al Afghani dan pembaharu-pembaharu lainnya telah sampai di Nusantara tidak terkecuali di Martapura. Persatuan bangsa Indonesia udah mulai terwujud, antara lain dengan telah terbentuknya Syarikat Dagang Islam (SDI). Pada waktu ini pendidikan dan pengajaran Islam masih berwujud tradisional, masih berlangsung di mushalla/surau atau di rumah tuan guru/ulama, namun ide-ide pemabaharuan pendidikan sudah dirasakan oleh para tuan guru/ulama tersebut. Dorongan untuk melakukan pembaruan semakin menguat manakala pemerintah kolonial Belanda mendirikan sekolah-sekolah umum yang tujuannya untuk mengokohkan kepentingan kolonial dan missi kristenisasi yang terselubung. Puncaknya terjadi pada hari Selasa tanggal 20 Sya’ban 1332 H./14 Juli 1914 M dengan dimotori oleh KH. Djamaluddin, salah seorang ulama terkemuka atas hajat masyarakat Islam dan mufakat dari para ulama, zu’ama, tokoh masyarakat, dan hartawan diprakarsai berdirinya lembaga pendidikan Islam dengan nama “Madrasah Darussalam” di kampong Pasayangan Martapura. Madrasah yang kemudian berkembang menjadi pesantren ini memiliki peran penting bagi sejarah perkembangan Islam di Kalimantan Selatan dan menjadi acuan bagi perkembangan madrasah/pesantren lain yang berdiri kemudian di daerah tersebut. KH. Jamaluddin sendiri dikenal sebagai pendiri sekaligus pimpinan pertama madrasah tersebut (1914 s/d 1919), beliau dikenal pula sebagai presiden Syarikat Islam (SI) pada Onder Afdelling Martapura yang meliputi wilayah yang sekarang ini adalah Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Tanah Laut. Ketika wafat beliau digantikan oleh KH. Hasan Ahmad (1919 s/d 1922).
B.       Perkembangan Pesantren
Pada awal berdirinya, pesantren Darussalam tampil dengan sistem pengajaran tradisional.  Materi-materi yang diajarkan terbatas hanya di bidang keagamaan.  Begitu pula, bangunan pesantren masih sangat sederhana yakni menempati sebuah rumah yang berukuran 10 x 20 m yang dibeli dari seorang tionghoa kemudian dirombak, ditambah dan disesuaikan sebagai madrasah pada waktu itu. Kegiatan pengajaran dilakukan dengan cara halaqah, dimana para murid duduk bersimpuh mengelilingi guru sambil mendengarkan materi keagamaan yang diberikan. Pendidikan dan pengajaran semacam ini tidak mengenal kelas atau batasan umur, anak-anak dan orang dewasa bercampur menjadi satu kelompok dengan tanpa ada evaluasi belajar.
Perkembangan pesantren Darussalam mengalami lompatan besar ketika pesantren dipimpin KH. Kasyful Anwar, beliau menggantikan KH. Hasan Ahmad menjadi pimpinan pesantren dari tahun 1922 hingga 1940.  Pada periode itulah, sejumlah pembaharuan dilakukan dalam rangka meningkatkan pendidikan pesantren diantaranya ialah  mengganti nama Madrasah Islam Darussalam mejadi “Madrasatul ‘imad fi Ta’limil Aulad Darussalam” selanjutnya Beliau melakukan pemugaran gedung lama diganti gedung baru yang bertingkat semi permanen dengan bahan dasar kayu ulin.  Gedung itu memiliki enam belas lokal, yang digunakan baik sebagai ruang belajar maupun kantor.
Selain itu, aspek terpenting dari pembaharuan yang dilakukan KH. Kasyful Anwar adalah memperkenalkan sistem klasikal/ madrasah pada sistem pendidikan tradisional dengan sistem kelas berjenjang.  Mulai dari Tahdiriyah selama 3 tahun, Ibtidaiyah 3 tahun, dan Tsanawiyah 3 tahun. Untuk kepentingan pengajaran Beliau telah menetapkan kitab-kitab standard dan mengarang beberapa kitab untuk menjadi acuan pelajaran yang diberikan di madrasah itu. Selanjutnya KH. Kasyful Anwar dipandang sebagai mu’assis/pendiri sistem pendidikan ala pesantren di PP. Darussalam Martapura.
Setelah wafatnya KH. Kasyful Anwar (1940) beliau digantikan oleh KH. Abdul Qadir Hasan. Pada periode ini terjadi pergolakan besar di Martapura dimana tentara Dai Nippon (Jepang) menguasai Martapura dan mereka memaksa bangunan pesantren untuk dijadikan asrama tentara pendudukan Jepang, namun oleh KH. Abdul Qadir Hasan kegiatan belajar mengajar tetap diteruskan dengan menjadikan rumah-rumah para guru sebagai kelas tempat belajar. Pada masa selanjutnya KH. Abdul Qadir Hasan bersama murid-muridnya ikut berperan dalam pemulihan keamanan pasca revolusi kemerdekaan.
Perkembangan situasi tenang dan kondusif pasca revolusi membuat perkembangan pesantren Darussalam menjadi sangat pesat. Selanjutnya Pesantren Darussalam dipimpin berturut-turut oleh KH. Anang Sya’rani Arief (1959 s/d 1969) dan KH. Salim Ma’ruf (1969 s/d 1976). Perkembangan fisik terlihat pada perbaikan bangunan fisik dan bertambahnya jumlah guru dan santri yang berdatangan dari berbagai penjuru daerah di Kalimantan. Perkembangan penting pada sistem pengajaran terjadi dimana ditetapkan jenjang pendidikan tahdiriyah 2 tahun, awaliyah 4 tahun, tsanawiyah/wustha 3 tahun, dan aliyah/ulya 3 tahun. Disamping itu juga dibentuk lembaga pendidikan khusus untuk mempersiapkan guru agama (semacam PGA) yang disebut “Isti’dadul Mu’allimin” 6 tahun dengan memasukan pula kurikulum pelajaran umum di dalamnya. Selain itu juga didirikan Fakultas Syari’ah Darussalam sebagai tingkatan perguruan tinggi bagi santri yang sudah lulus tingkatan aliyah/ulya. Pada periode ini pula dibentuk “majelis syuyukh” yakni majelis para ulama/guru yang mengajar di Darussalam dimana dilaksanakan pengajaran/pengajian khusus untuk para guru yang diasuh oleh pimpinan pesantren dan musyawarah membahas berbagai persoalan di pesantren maupun di masyarakat.
Pada perkembangan berikutnya periode kepemimpinan KH. Badruddin (1976 s/d 1992) . lembaga pendidikan ini diresmikan namanya sebagai “Pondok Pesantren Darussalam Martapura”. Pada periode ini modernisasi pesantren Darussalam terus berlangsung sejalan dengan perkembangan masyarakat sekitar.  Kebutuhan masyarakat sekitar terhadap pendidikan yang makin beragam – yang tidak hanya terbatas dibidang keagamaan – senantiasa memperoleh perhatian yang sangat besar dari pengelola pesantren Darussalam.  Oleh karena itu, saat ini pesantren Darussalam tidak hanya mendirikan lembaga pendidikan Islam madrasah, tapi juga lembaga pendidikan umum. Pesantren telah mendirikan SMP, SPP-SPMA (Sekolah Pertanian yang menggunakan kurikulum dari Departemen Pertanian), dan STM/SMK yang mengacu pada Depdiknas, serta memperbaharui Fakultas Syariah Darussalam menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) dengan kurikulum Depag/IAIN. Untuk kepentingan itu telah dibuka lokasi baru diatas tanah 10 Ha yakni di Jl.Perwira Tanjung Rema Darat Martapura dijadikan kompleks gedung-gedung sekolah dan asrama guru/santri milik pessantren Darussalam.
Periode selanjutnya kepemimpinan KH. Abdussyukur (1992 s/d 2007) perkembangan signifikan adalah pada bangunan fisik pesantren dimana telah direnovasi bangunan lama peninggalan KH. Kasyful Anwar yang sebelumnya dua tingkat berbahan dasar kayu ulin dirombak menjadi bangunan beton permanen setinggi tiga tingkat. Disamping itu bangunan-bangunan baru juga telah didirikan baik di lokasi lama maupun di lokasi baru kesemuanya itu dilakukan untuk mendukung aktifitas belajar mengajar dan pelayanan bagi para “tholibul’ilmi” yang jumlahnya telah mencapai puluhan ribu orang.
Pada periode ini juga didirikan “Pesantren Tahfidz al-Qur’an Darusalam” yakni pesantren khusus tempat menghafal dan mengkaji ilmu-ilmu al-Qur’an, dan “Fakultas Fiqhiyah Ma’had Aly Darussalam” yakni perguruan tinggi setingkat diploma dengan kajian khusus ilmu fiqih dan ushul fiqih dengan kurikulum pesantren. Disamping itu, STIS Darussalam dengan kurikulum IAIN/Depag yang sebelumnya sudah ada ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darussalam dengan penambahan fakultas/jurusan baru, dan telah mendapatkan status terkreditasi/diakui oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT).
Setelah wafatnya KH. Abdussyukur (2007) kepemimpinan Pesantren Darusalam diteruskan oleh KH. Khalilurrahman. Pada periode ini telah dijajaki pengembangan pesantren untuk kemajuan yang lebih baik dengan berusaha membenahi manajemen pesantren, pengelolaan keuangan yang teratur dan profesional, serta koordinasi antar tingkatan dan unit-unit lembaga pendidikan, dan sebagainya. Untuk itu telah dilakukan upaya-upaya diantaranya ialah mengadakan studi banding bersama unsur pimpinan dan guru-guru pesantren Darussalam ke PP. Darul Ulum Jombang Jawa Timur (2009). Disamping itu juga dilakukan pembenahan terhadap organisasi dan tata kelola Yayasan Pondok Pesantren Darussalam Martapura sebagai induk dari semua unit-unit lembaga pendidikan Darussalam.
C.      Ciri Khas Pesantren
Sebagaimana pesantren pioneer lainnya, pesantren Darussalam Martapura juga mengembangkan ciri khas/keunggulan yang mendorong para santri untuk terus berdatangan kepara santri ke pesantren ini.  Adapun ciri khas pesantren ini

  1.  Kurikulum pesantren mengacu pada kitab kuning standar (kitab mu’tabarah) dan referensi yang sejalan dengan ahlussunnah wal jama’ah madzhab Syafi’i, sementara sekolah menggunakan sistem klasikal. Sebagaimana tradisi keilmuan klasik ala pesantren sistem pembelajaran menggunakan cara sorogan yakni guru membacakan kitab dan menjelaskan isinya santri menyimak dengan kitabnya masing dan men-dhobit berdasarkan penjelasan guru, dan wetonan yakni murid membacakan kitab bergantian dengan disimak oleh gurunya. Setiap khatam pembacaan kitab diberikan sanad ijazahnya oleh guru dan diadakan semacam acara selamatan.
  2. Berbeda dengan umumnya pesantren di pulau Jawa yang terpusat pada satu lokasi dengan asrama santri dan jadwal kegiatan yang diatur sedemikian rupa, Pesantren Darussalam tidak memiliki asrama khusus untuk santri maupun guru, para santri sepulang sekolah masing-masing kembali ke kediamannya dan mengatur jadwal sendiri untuk mendalami ilmu yang telah dipelajarinya di sekolah dengan mendatangi guru-guru yang membuka majelis ta’lim di rumahnya masing-masing.
  3.  Pesantren memiliki hubungan sangat dekat dengan masyarakat (Community Based Institution), hal ini disebabkan lokasi pesantren yang berbaur di tengah pemukiman penduduk serta aktifitas pengajaran yang tidak terfokus di sekolah melainkan juga di rumah-rumah para guru yang menyebar di seputar kota Martapura (dengan membuka majelis ta’lim khusus atau yang terbuka untuk masyarakat umum). Banyaknya para santri dan masyarakat yang berlalu lalang seputar kota untuk sekolah dan mengaji menjadikan Martapura seolah menjadi pesantren besar.

D.      Penyelenggaraan Pendidikan
Masyarakat Martapura pada umumnya dikenal sangat agamis, mereka sangat mendukung berbagai kegiatan pesantren dan menjadikan guru Darussalam sebagai panutan dan pemimpin acara keagamaan di masyarakat, sebaliknya sebagai bagian dari masyarakat pesantren Darussalam tak bisa melepaskan keterkaitannya dengan masyarakat. karena itu, dukungan tersebut selanjutnya disambut pesantren dengan mendirikan berbagai lembaga pendidikan modern yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi wilayah disamping tetap mempertahankan model pendidikan diniyah salafiyah.
Lembaga-lembaga pendidikan yang berada di bawahan naungan Pondok Pesantren Darussalam tersebut adalah :
  1. .Diniyah Tahdiriyah,,yakni pendidikan diniyah tingkat dasar (2 tahun) dengan kurikulum pesantren.
  2.  Diniyah Awwaliyah, yakni pendidikan diniyah dasar tingkat lanjut (4 tahun) dengan kurikulum pesantren.
  3. Diniyah Wustha, yakni pendidikan diniyah tingkat menengah (3 tahun) dengan kurikulum pesantren.
  4. Diniyah Ulya, yakni pendidikan diniyah tingkat atas (3 tahun) dengan kurikulum pesantren.
  5. MA Mu’alimin, pendidikan setingkat madrasah aliyah (3 tahun) dengan kurikulum Kemenag dan tambahan kurikulum pesantren.
  6. SMP Darussalam, pendidikan umum swasta tingkat menengah pertama (3 tahun) dengan kurikulum Diknas.
  7. STM-SMK Tekhnik Darussalam, pendidikan tingkat atas kejuruan bidang tekhnik (3 tahun) dengan kurikulum diknas.
  8. STAI Darussalam, pendidikan tingkat perguruan tinggi jurusan syariah, tarbiyah, dan ushuluddin (4 tahun) dengan kurikulum IAIN/kemenag dan pesantren
  9. Pondok Tahfidz dan Ilmu-ilmu al-Qur’an, pendidikan khusus menghafal dan kajian ilmu-ilmu Al Qur’an (4 tahun) kurikulum pesantren.
  10. Ma’had Aly Darussalam, pendidikan lanjutan setingkat perguruan tinggi/diploma (2 tahun) khusus kajian fiqhiyah dengan kitab-kitab klasik sebagai rujukan menggunakan kurikulum pesantren.
  11.  Takahsus Diniyah, pendidikan diniyah khusus bagi orang dewasa yang sudah bekerja menggunakan kurikulum pesantren. 

Jumat, 23 Maret 2012

KH. Abdussykur


KH. ABDUSSYUKUR
Beliau dilahirkan pada malam Jum’at tanggal 11 Sya’ban 1346 H bertepatan dengan 8 Agustus 1928 M, di desa Melayu Tengah Martapura.

Pendidikan beliau mengaji di Pondok Pesantren Darussalam hingga lulus Aliyah tahun 1950  dan mengaji kepada para Alim Ulama, diantaranya :
1.     K.H. Sya’rani Arif                                    
2.     K.H. Salim Ma’ruf                        
3.     K.H. Husin Qodri                         
4.     K.H. Semman Mulia                     
5.     K.H Salman Jalil                           
6.     K.H. Arfan (Dalam Pagar)
7.  K. Anang Jurzani 
8.  K.H.M. Ramli Ahmad 
9.  K. Marjuki 
10.Syech Yasin padang
11.Syech Ismail Al-yamani, dan lain-lain

KH.Abdusysykur mulai tahun 1950 mengajar di Pondok Pesantren Darussalam, dan ditunjuk oleh K.H. Salim Ma’ruf  (sewaktu sakit) untuk menjabat sementara bersama K.H. Muhdar sebagai Wakil.  SBeliau dipercaya untuk menjadi Ketua MUI Kabupaten Banjar sampai tahun 2007, selain itu Beliau juga menjabat sebagai Ketua Nazir Masjid Agung Al-Karomah Martapura, Mustasyar/sesepuh Nahdlatul Ulama Cabang Kabupaten Banjar, dan menjadi  Pimpinan Umum PP.Darussalam dan Ketua Yayasan PP.darussalam Martapura sejak tahun 1992 s/d 2007.

 Beliau banyak mengaji dan menimba ilmu agama kepada guru beliau yang sangat beliau cintai, yaitu K.H. Sya’rani Arif dan mendapat Futuh dari beliau.

Beliau wafat pada hari Sabtu tanggal 5 Robiul Awwal 1428 H bertepatan pada tanggal 24 Maret 2007 M.  Pada jam 12.20 Wita dan dimakamkan di samping guru beliau K.H. Sya’rani Arif di kubah Kampung Melayu Tengah Martapura.

KH. Badruddin









KH. Badruddin atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Guru Ibad’. Beliau dilahirkan pada tanggal 29 Dzul Qo’idah 1355 Hijriah atau bertepatan pada tanggal 11 Februari 1937 M. di kota serambi Makkah Martapura Kalimantan Selatan. Nama lengkap Beliau adalah KH. Badruddin bin KH. Ahmad Zaini bin KH. Abdurrahman bin H. Zainuddin bin Abdusshomad bin Abdullah Al Banjari.

Tokoh ini mempunyai kharisma besar di masyarakat. Selain sebagai ulama Beliau juga merupakan element pemerintahan baik di lokal maupun pusat. Pengaruhnya yang besar justru terletak pada perkembangan-perkembangan yang Beliau lakukan di jajaran pesantren Darussalam tempat Beliau mengajar dan lingkungan masyarakat di sekitarnya. Serta terlahir dari keluarga besar yang menjadi panutan.
Beliau yang hidup di tengah-tengah masyarakat muslim yang taat beragama. Sejak kecil Beliau mula-mula menerima pendidikan agama belajar mengaji dengan ayah dan kakek Beliau. Selanjutnya seiring dengan pertumbuhannya Beliau memasuki pendidikan formal di madrasah Iqdamul Ulum dan pesantren Darussalam Martapura. Dan setelah meluluskan jenjang pendidikan keduanya, Beliau dengan kedisiplinan ilmu meneruskan jelajah ilmunya ke bumi tempat dilahirkannya Rasulullah yakni Makkah Al Mukarramah tepatnya di madrasah Shaulathiyyah Makkah selama kurang lebih dua tahun.
Selain itu Beliau juga memperdalam pengetahuannya dengan beberapa ulama besar Martapura, diantaranya ; KH. Husein Qodri (yang tak lain kakak Beliau sendiri) KH. Muhammad Sya’rani Arif. Dan KH. Muhammad Semman Mulya, serta KH. Salim Ma’ruf kemudian beberapa ulama dan habaib di pulau Jawa.
KH. Badruddin bin KH. Ahmad Zaini tidak berhenti meneruskan perjuangan yang dilakukan oleh kakek, ayah dan saudaranya sebagai pembimbing dan pembina masyarakat melalui pengajian-pengajian agama. Baik di Pondok Pesantren Darussalam Martapura maupun di kalangan masyarakat umum seperti di masjid-masjid di langgar-langgar dan di kampung-kampung.
Beliau juga orang yang pertama membawa dan mengembangkan maulidul Rasul, Maulid Habsyi di Kalimantan Selatan dan sekitarnya sampai sekarang terus diamalkan oleh masyarakatnya. Jasa yang begitu mulia dan sangat besar.
KH. Badruddin putera Mufti KH. Ahmad Zaini dan Ibu Hajjah Jannah. Sejak remaja dan sampai akhir hayatnya kakak kandung KH. Muhammad Rasyad ini dikenal memiliki pendirian yang teguh, disiplin dan loyalitas yang tinggi baik dalam sikap maupun perbuatan. Aktifitasnya sebagai pengajar agama Beliau wakafkan sebagai dewan guru di Darussalam dengan memulai kiprahnya pada tahun 1955 M. hingga pada tahun 1976 M. Beliau dinobatkan menjadi pimpinan Pondok Pesantren Darussalam menggantikan pendahulu sebelumnya Almarhum KH. Salim Ma’ruf. Di bawah kepemimpinannya Darussalam mengalami perkembangan pesat, banyak diadakan peningkatan terutama di segi pendidikan dengan menetapkan bebe-rapa kurikulum Darussalam dan madrasah Diniyah, kurikulum DIKNAS untuk SLTP / SPMA, kurikulum Depag untuk madrasah Tsanawiyah / Aliyah Mu’allimin dan kurikulum IAIN untuk perguruan tinggi Islam STIS / STAI, serta mengadakan reuni alumni Pondok Pesantren Darussalam se-Kalimantan.
Di masa kepemimpinan Beliau juga Darussalam mengganti nama menjadi Pondok Pesantren Darussalam yang semula bernama Madrasah Al-Islamiyah Darussalam. Kecuali itu, di bidang infrastruktur pun mengalami peningkatan. Selain bangunan gedung yang di tempati di lokasi Pasayangan juga dibangun gedung di lokasi baru yaitu di Jl. Perwira Tanjung Rema Darat Martapura diatas bentangantanah seluas 10 hektar yang pada waktu itu hasil dari sumbangan Pangdam X Lambung Mangkurat, Bapak Lenjend Amir Mahmud.
Di bidang ke agamaan, di samping sebagai guru dan pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, Beliau aktif memberikan khutbah Jum`at di Masjid Agung Al-Karamah, Martapura dan nazir masjid kebanggaan warga masya-rakat Serambi Makkah Martapura.
Sosok KH. Badruddin bin KH. Ahmad Zaini sebagai negarawan yang mempunyai dedikasi menyebarkan da’wah Islam dengan penuh keikhlasan dan kayakinan hanya untuk menuntut ridho-Nya. Selama hidup Beliau yang bersahaja pernah ditunjuk untuk menjabat sebagai ;- Penghulu Kampung Jawa dan Sungai Paring, Martapura pada tahun 1955.- Sebagai karyawan di Departemen Agama, Martapura, Kabupaten Banjar pada tahun 1960.- Tahun 1961 diangkat menjadi anggota DPRD Tingkat II, Martapura, Kabupaten Banjar.- Pada tahun 1978 dipercaya sebagai anggota MPR RI selama dua periode.- Pada tahun 1978 dipercaya sebagai anggota DPA RI selama dua periode.Di bidang organisasi, terutama organisasi keagamaan pernah mendu-duki jabatan-jabatan penting seperti :- Wakil Ketua Umum Badan Kerja Sama Ulama Mileter.- Ketua MUI Kalimantan Selatan.- Ketua LTPQ Kalimantan Selatan.- Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP)Kalimantan Selatan.Anggota Badan Pertimbangan MUI Pusat.- Rais Suriah PWNU Kalimantan Selatan. Dan kiprahnya di bidang ini tetap saja tak lepas dari upaya memperjuangkan tegak syiar Islam.Beliau merupakan figur yang ber-peran secara ideal dalam beberapa dimensi sosial, sebagai ayah dalam keluarga, pakar ilmu dalam komunitas keilmuan dan ulama serta panutan dalam kehidupan bermasyarakat. Keman-faatan ilmu dan akhlak Beliau dirasakan semua orang.
KH. Badruddin bin KH. Ahmad Zaini telah berpulang ke rahmatullah malam Rabu tanggal 28 Jumadil Akhir 1413 H / 23 Desember 1992 M dimakamkan di qubah Tunggul Irang Martapura. semoga dalam perjalanan hidup dan pengabdian Beliau diterima oleh Allah Swt sebagai amal sholeh.

KH. M. Salim Ma'ruf


KH. Salim Ma'ruf
Almarhum K.H. Salim Ma’ruf lahir di kampong Keramat Kecamatan Martapura Timur Sekitra tahun 1913, ayah beliau bernama H. Ma’ruf bin H. Nafis asal Kampung Melayu.  Kakek almarhum H. Nafis asal kampong Dalam Pagar Martapura.  Ibu almarhum bernama Hj. Asiah seorang perempuan dari kampong Keramat Martapura.  Ayah almarhum H. Ma’ruf adalah seorang petani di samping menjadi muezzin di Masjid Agung Al-Karomah Martapura.  H. Ma’ruf adalah seorang yang selalu mencintai para ulama dan orang-orang berpengetahuan agama dan mempunyai anak sebanyak 5 orang yang terdiri dari 1 orang anak laki-laki dan 4 orang perempuan, jadi K.H. Salim Ma’ruf satu-satunya anak laki-laki.

K.H. Salim Ma’ruf mendapat pendidikan Agama dari ayah almarhum sendiri di rumah, beliau belajar membaca Alqur’an dengan Syech H. Ali Bahwiris di kampong Keramat Martapura.  Beliau memperdalam ilmu-ilmu agama dengan beberapa orang guru, diantaranya :

1.  Al Alimul Allamah  K.H. Kasyful Anwar ( Kampung Melayu)
2.  Al Alimul Allamah  K.H. Abdurrahman    (Desa Tunggul Irang)
3.  Al Alimul Allamah  K.H. Yusuf Jabal       ( Desa Pasayangan)
4.  Al Alimul Allamah  K.H. Marzuki  (Kampung Melayu)
5.  Al Alimul Allamah  K.H. Zainal Ilmi ( Kampung Dalam Pagar)
6.  Al Alimul Allamah  Syech H. Abdul Hamid (Madrasah As-Salam Pasayangan)

Beliau memperdalam ilmu Mantiq dengan Syech H. Abdul Hamid yang datang dari Yaman.

Pada waktu almarhum  mulai mengaji dengan K.H. Kasyful Anwar, satu-satunya guru almarhum yang paling banyak menimba ilmu pengetahuan agama, pada waktu itu almarhum masih muda.  Setelah almarhum K.H. Kasyful Anwar mempunyai firasat melihat bakat dan kesungguhan almarhum menuntut ilmu, maka almarhum K.H. Kasyful Anwar berkata kepada Almarhum H. Ma’ruf agar anaknya yang bernama H. Salim jangan disuruh berusaha, biar dia mengaji saja sama aku, karena anak ini akan jadi orang alim.  Atas perminta’an ini, almarhum H. Ma’ruf menta’atinya.  Maka almarhum K.H. Salim Ma’ruf selalu tekun mempelajari kitab-kitab agama islam.  Diantara ilmu yang dikuasai beliau yang menonjol adalah tafsir Alqur’an, ilmu Ushuluddin, ilmu Mantiq (Logika) dan ilmu Wifiq (rajah/wafaq) di samping ilmu lain yang dikuasai almarhum.

Tahun 1933 dalam usia 20  tahun almarhum telah mendapat izin untuk mengajar agama dari mufti Martapura.  Maka mengajarlah almarhum di Langgar-Langgar atau Surau-Surau, di samping mengajar di PP.Darussalam atas permintaan Guru Almarhum K.H. Kasyful Anwar, yang kala itu menjadi Pimpinan PP.Darussalam Martapura.  

Pada tahun 1942 s/d 1044 Almarhum pergi ke Pontianak (Kal-Bar) dengan tujuan berdagang/ berniaga di Pontianak, kemudian masyarakat disana mengenal almarhum orang yang alim dalam ilmu agama islam, maka almarhum di minta Sulthan Sayyid  Abdurrahman Al-Qodry untuk mengajar di istana Al-Qodry.

Pada tahun 1945 almarhum kembali ke Martapura dan bertekad mengabdi di PP.Darussalam untuk melaksanakan wasiat dari almarhum K.H. Kasyful Anwar, yang mana beliau berwasiat agar murid-murid beliau ikut terus membina dan memajukan PP.Darussalam yang pada waktu itu di pimpin oleh almarhum K.H. Abdul Qodir Hasan yang popular dikenal dengan sebutan “ Guru Tuha” 

Pada tahun  1948 almarhum pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, setelah dibuka kembali bagi bangsa Indonesia yang beragama islam untuk pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan almarhum pulang dengan selamat. 

Pada tahun 1962 almarhum beserta masyarakat kampong Pekauman dan kampong Keramat mendirikan sebuah Madrasah Ibtidaiah 6 tahun yang bernama Miftah Darissalam, yang kala itu di kedua desa tersebut tidak terdapat Sekolah Dasar.  Sekarang Madrasah tersebut di pimpin oleh Putera almarhum yang bernama Guru H. Humaidi Salim. 

Pada tahun 1969 almarhum dipercaya memimpin PP.Darussalam sepeninggalnya Almarhum K.H. Anang Sya’rani Arif.  Sifat dan pembawaan Beliau yang dikenal selama memimpin Darussalam adalah kedisiplinannya yang keras dalam segala hal dan tegas dalam bersikap, suatu sifat yang tidak semua orang menyukainya namun didalamnya mengandung hikmah yang teramat dalam. 

Pada tahun 1973 keadaan fisik almarhum mulai menurun (selalu dapat sakit), tetapi almarhum selalu memaksa turun ke pondok walaupun dengan cara di papah oleh seorang anak almarhum.  Kemudian atas nasehat Dokter agar almarhum banyak istirahat.  Kemudian kepemimpinan PP.Darussalam beliau serahkan kepada murid beliau K.H. Badruddin dan K.H. Abdus Syukur. 

KH. Salim Ma'ruf pernah menulis beberapa kitab diantaranya :
1.      Kitab yang bernama “Al-I’lan” berisi Perukunan
2.      Kitab yang bernama  “Risalah Muamalah” berisi pedoman jual beli dalam islam
3.      Kitab yang bernama  “ Qoulul Muallaq” berisi ilmu Mantiq atau Logika
4.      Kitab yang bernama  “ Hisnul Ummah” berisi amalan sehari-hari
5.      Kitab yang bernama  “ Tashilul Murid fi limit-tajwid” yang berisi tentang ilmu Tajwid


Pada tanggal 1 Pebruari 1979 M / 2 Rabiul Awal 1400 H tepatnya malam kamis subuh beliau menghembuskan nafas terakhir berpulang ke Rahmatullah.  Beliau dimakamkan di kubah Jl. Kertak Baru Pekauman Martapura. 



 


Daftar Kitab Tingkat Ulya PP. Darussalam


الفصل الاول
المؤلفون
اسماء الكتب
الفن
الرقم
الشيخ  ابراهيم البجورى
تحفة المريد
توحيد
1
شيخ   زين الدين الملبارى
اعانة الطالبين
فقه
2
الشيخ  محمد بن محمد الراعينى
شرح قرة العين
اصول فقه
3
الشيخ جلال الدين السيوطى
النقاية
اصول  تفسير
4
-
طلعة الانوار
اصول  حديث
5
شيخ  محمد رضا
محمد رسول الله
تاريخ
6
الشيخ  محمد بن محمد سبط المارديبى
شرح رحبية
فرائض
7
الشيخ  محمد بن محمد الدمنهورى
مختصر الشافى
عروض
8
الشيخ   بحرق اليمنى
شرح لامية الافعال
صرف
9
الشيخ محمد بن  مالك
شرح ابن عقيل
نحو
10
الشيخ  احمد الدمنهورى
شرح جوهر المكنون
منطق
11
الشيخ  عبد الرحمن الاخضرى
شرح الاحضرى
بلاغة
12
الشيخ جلال الدين المحلىوالسيوطى
جلالين
تفسير
13
شيخ  زين الدين احمد
تجريد الصريح
حديث
14
الشيخ  محمد نواوى  الجاوى
مراقى العبودية
اخلاق
15

الفصل الثانى

المؤلفون
اسماء الكتب
الفن
الرقم
الشيخ  ابراهيم البجورى
تحفة المريد
توحيد
1
الشيخ زكريا ء الانصارى
فتح الوهاب
فقه
2
الشيخ  ابو اسحاق الشيرازى
اللمع
اصول فقه
3
الشيخ  سيد محسن المساوى
نهج التيسير
اصول  تفسير
4
الشيخ  حسن المشاط
رفع الاستار
اصول  حديث
5
الشيخ جلال الدين السيوطى
تاريخ الخلفاء
تاريخ
6
الشيخ  عبد الله  الشنسورى
الشنسورى
فرائض
7
الشيخ  اسماعيل بن ابى بكر
اشرف الوافى
عروض
8
الشيخ  ابراهيم البجورى
فتح الخبير اللطيف
صرف
9
الشيخ محمد بن  مالك
شرح ابن عقيل
نحو
10
الشيخ  احمد الدمنهورى
شرح جوهر المكنون
منطق
11
شيخ   حسن ادروس القويسينى
القويسينى
بلاغة
12
الشيخ  محمد نواوى  الجاوى
مراح اللبيد
تفسير
13
شيخ   امام مسلم
صحيح مسلم
حديث
14
شيخ  سيد بكرى المكى
كفاية الاتقياء
اخلاق
15

الفصل الثالث

المؤلفون
اسماء الكتب
الفن
الرقم
شيخ  محمد بن  يوسف  السنوسى
شرح  ام البراهين
توحيد
1
الشيخ زكريا ء الانصارى
فتح الوهاب
فقه
2
الشيخ  ابو اسحاق الشيرازى
اللمع
اصول فقه
3
شيخ  محمد بن احمد  الكلبى
كتاب التسهيل لعلوم التنزيل
اصول  تفسير
4
شيخ  محمد محفوظ  بن عبد الله الترمسى
منهج ذوى النظر
اصول  حديث
5
الشيخ جلال الدين السيوطى
تاريخ الخلفاء
تاريخ
6
الشيخ  عبد الله  الشنسورى
الشنسورى
فرائض
7
الشيخ  اسماعيل بن ابى بكر المقرى
علم القولفى
عروض
8
شيخ  امام ابو حنيفة  الكوفى
المطلوب
صرف
9
الشيخ محمد بن  مالك
شرح ابن عقيل
نحو
10
الشيخ  احمد الدمنهورى
شرح جوهر المكنون
منطق
11
الشيخ  زكرياء الانصارى
شرح ايسا غوجى
بلاغة
12
الشيخ  محمد نواوى  الجاوى
مراح اللبيد
تفسير
13
شيخ   امام مسلم
صحيح مسلم
حديث
14
شيخ  امام  الغزالى
منهاج العابدين
اخلاق
15

Yayasan Ponpes Darussalam Martapura

Pengikut

Cari Blog Ini

Memuat...